Minggu, 25 September 2016

proposal IUD

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Program KB Nasional mempunyai kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas penduduk. Kontribusi program Keluarga Berencana Nasional tersebut dapat dilihat pada pelaksanaan program Making Pregnancy Safer. Salah satu pesan kunci dalam Rencana Strategik Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2010 adalah bahwa setiap kehamilan harus merupakan kehamilan yang diinginkan. Untuk mewujudkan pesan kunci tersebut KB merupakan upaya pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama. Untuk mengoptimalkan manfaat keluarga berencana bagi kesehatan, pelayanannya harus digabungkan dengan pelayanan kesehatan reproduksi yang telah tersedia. ( Wiknjosastro, 2007 )
Pencegahan kematian dan kesakitan ibu merupakan alasan utama diperlukannya pelayanan keluarga berencana. Masih banyak alasan lain, misalnya membebaskan wanita dari rasa khawatir terhadap terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, serta terjadinya gangguan fisik atau psikologi akibat tindakan abortus yang tidak aman. ( Wiknjosastro 2007 )
Salah satu jenis alat kontrasepsi adalah IUD yang merupakan salah satu metode kontrasepsi efektif, yaitu pemakaian IUD dengan satu kali pemasangan untuk jangkang lama. Perkembangan bentuk IUD serta kesadaran yang meningkat akan perlunya pengendalian kesuburan dengan teknik pemasangan yang benar, maka kini IUD telah dapat diterima secara luas di kalangan masyarakat (Wiknjosastro, 2007).
Menurut WHO pengguna kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) pada tahun 2010 berkisar 67 juta jiwa (70,12%).
Pada Negara ASEAN pengguna Intra Uterine Device (IUD) pada tahun 2010 berkisar 58 juta jiwa (62,7%), Pada Negara maju seperti Cina pengguna kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) pada tahun 2010 berkisar 54 juta jiwa (50,42 %).
Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia pada tahun 2010 penggunaan kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) menduduki peringkat ke empat, dari sejumlah peserta KB yaitu berkisar 17 juta jiwa (30,25 %).
Sedangkan penggunaan kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2010 adalah 9 juta jiwa (23,82 %).
Sedangkan jumlah pengguna kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di RS Labuang Baji Makassar tahun 2010 sekitar 15 orang (3,72 %) akseptor Intra Uterine Device (IUD) dengan keluhan keputihan 5 akseptor. Dari latar belakang dan permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana pada Ny.“ ” Akseptor Intra Uterine Device (IUD) dengan Keputihan di RSUD Labuang Baji  Makassar.

B.     Ruang Lingkup Pembahasan
Pembahasan studi kasus ini menggunakan pendekatan proses manajemen asuhan kebidanan aseptor Intra Uterine Device (IUD) pada Ny “ ” dengan keputihan di RSUD Labuang Baji Makassar tahun 2016
C.    Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah :
1.      Tujuan Umum
Melaksanakan asuhan kebidanan Ny “ ”  Akseptor IUD dengan Keputihan RSUD Labuang Baji Makassar sesuai wewenang bidan
2.      Tujuan Khusus
a.       Melaksanakan pengkajian dan pengumpulan data Ny “ ” akseptor IUD dengan keputihan di RSUD Labuang Baji Makassar tahu 2016.
b.      Menganalisa dan menginterprestasikan data untuk menentukan diagnosa aktual Ny “ ” Akseptor IUD dengan Keputihan di RSUD Labuang Baji Makassar tahun 2016
c.       Menentukan masalah potensial yang akan timbul Ny “ ” akseptor IUD Dengan Keputihan di RSUD Labuang Baji Makassar tahun 2016.
d.      Melaksanakan tindakan segera, kolaborasi dan konsultasi pada Ny “ ” Akseptor IUD dengan keputihan di RSUD Labunga Baji Makassar tahun 2016
e.       Menetapkan rencana tindakan secara komprehensif Ny “ ” Akseptor IUD dengan Keputihan di RSUD Labuang Baji Makassar tahub 2016
f.       Melaksanakan implementasi dari rencana tindakan yang telah di susun Ny “ ” Akseptor IUD dengan Keputihan di RSUD Labuang Baji Makassar tahun 2016.
g.      Mengevaluasi efektifitas tindakan yang telah di laksanakan Ny “ ” askseptor IUD dengan Keputihan di RSUD Labuang Baji Makassar tahun 2016.
h.      Mendokumentasikan semua temuan dan tindakan yang telah di berikan Ny “ ” Akseptor IUD Dengan Keputihan di RSUD Labuang Baji Makassar 2016.

D.    Manfaat penulisan
1.      Bagi institusi
Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan dalam kebidanan, terutama dalam manejemen asuhan kebidanan pada akseptor IUD dengan  Keputihan.
2.      Bagi rumah sakit
Merupakan pegangan atau dokumentasi untuk perawat dan bidan dan rumah sakit khusus di bagian poli keluarga berencana serta sebagai bahan masukan untuk lebih meningkatkan pelayanan KB yang berkualitas.



3.      Bagi penulis
Dapat menambah pengetahuan dan keterampilan bagi penulis dalam memberikan perawatan klien kasus akseptor IUD dengan masalah keputihan.

E.     Metode Penulisan
Metode yang digunakan untuk karya tulis ilmiah ini adalah
1.      Studi pustaka
Yaitu dengan membaca literatur  yang berhubungan dengan IUD dengan  keputihan
2.      Studi kasus
Dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah dalam asuhan kebidanan yang meliputi : pengkajian dan analisa data dasar, mengidentifikasi diaonosa / masalah potensial, melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi, menyusun rencana tindakan asuhan kebidanan serta mendokumentasikan asuhan kebidanan. Untuk menghimpun data dan informasi dalam pengkajian dengan menggunakan teknik :
1.      Anamnesa
Mengadakan tanya jawab langsung dengan Ny “ ”, di ruangan KB yang berhubungan dengan Keputihan pada Ny “ ”.
2.   Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistimatik mulai dari kepala sampai kaki meliputi inspeksi,palpasi,auskultasi dan perkusi.
3.      Studi dokumentasi
Dengan membaca dan mempelajari status klien dan menginterpretasikan data yang berhubungan dengan klien, baik bersumber dari catatan dokter, bidan maupun sumber lain yang menunjang.
4.   Diskusi
Diskusi dengan tenaga kesehatan yakni dokter, bidan maupun pembimbing karya tulis ilmiah.

F.     Sistimatika Penulisan
Adapun sistimatika penulisan yang digunakan untuk penulisan karya tulis ilmiah ini adalah :
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Ruang Lingkup Penulisan
C.     Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Umum
2.     Tujuan Khusus
D.    Manfaat Penulisan
E.     Metode Penulisan
F.      Sistimatika Penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.    Teori Medis
1.      Pengertian Kontrasepsi
2.      Sejarah Intra Uterine Device (IUD)
3.       Pengertian  Intra Uterine Device (IUD)
4.      Jenis-jenis Intra Uterine Device (IUD)
5.      Mekanisme kerja
6.      Efektifitas keuntungan dan kerugian Intra Uterine Device (IUD)
7.      Indiikasi, Kontra indikasi dan waktu pemasangan Intra Uterine Device (IUD)
8.      Efek samping Intra Uterine Device (IUD) dan Penanggulangannya
9.      Petunjuk bagi klien Intra Uterine Device (IUD)
10.  Indikasi pencabutan Intra Uterine Device (IUD)
B.     Proses Manajemen Kebidanan
1.      Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
2.      Tahapan Manajemen Asuhan Kebidanan
3.      Dokumentasi Asuhan Kebidana
BAB III STUDI KASUS
Merupakan laporan hasil studi kasus pada ibu dengan keputihan di RSUD LABUANG BAJI Makassar tahun 2016 dengan pendekatan asuhan kebidanan.


BAB IV PEMBAHASAN
Pada bagian ini membahas kesenjangan antara teori dan fakta yang ada, dibahas secara sistimatik mulai dari pengkajian dan analisa data dasar, mengidentifikasi diagnose / masalah potensial, melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi, menyusun rencana tindakan asuhan kebidanan, serta mendokumentasikan asuhan kebidanan (7 langkah varney) di RSUD Labuang Baji Makassar.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Merupakan BAB terakhir yang memuat kesimpulan akhir pelaksanaan dan juga berisikan saran-saran operasional untuk peningkatan kualitas asuhan kebidanan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Tinjauan Tentang Kontrasepsi
1.      Kontrasepsi
a.       Pengertian kontrasepsi
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan baik yang bersifat sementara maupun  yang bersifat permanen ataupun menetap yang dapat di lakukan secara mekanisme menggunakan alat, tampa menggunakan alat atau dengan operasi ( Wiknjosastroh, 2001, hal 255 )
b.      Kontrasepsi ialah usaha – usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha – usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha – usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen dinamakan pada wanita tubektomi dan pada pria vasektomi ( Mochtar R. Sinopsis Obstretri Sosial. Hal 225 )
c.       Kontrasepsi adalah usaha untuk mencega terjadinya kehamilan. Upaya ini dapat bersifat sementara maupun bersifat permanen, dan upaya ini dapat dilakukan dengan menggunakan cara, alat atau obat – obatan, secara umum menurut cara penatalaksanaan kontrasepsi dapat di bagi menjadi 2 yaitu :
1)      Cara temporer ( spacing ), yaitu menjarangkan kelahiran selama beberapa tahun sebelum menjadi hamil lagi.
2)      Cara permanen ( kontrasepsi mantap ), yaitu mengakhiri kesuburan dengan cara kehamilan secara permanen ( Saifuddin A.B.2011. Hal 46 )
d.      Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan.
2.      Ciri – ciri Kontrasepsi Yang Ideal
a.       Aman atau tidak berbahaya
b.      Dapat diandalkan
c.       Sederhana , sedapat – dapatnya tidak usah di kerjakan oleh seorang dokter
d.      Murah
e.       Dapat diterimah oleh orang banyak
Pemakaian jangka lama (continuation )(hanafi, 2004, hal 36 )
3.      Tujuan kontrasepsi
a.       Pemberian dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan KB yaitu dihayatinya NKKBS
b.      Mewujutkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera ( NKKBS )
c.       Penurunan angka kematian yang bermakna ( Hanafi, 2010, hal. 30 )
4.      Macam – macam metode kontrasepsi
a.       Metode sederhana


1.      Kondom pria
Adalah  metode kontrasepsi yang dapat menghalangi sperma ke dalam genetalial interna wanita. Cara kerjanya menyarungi penis waktu koitus sehingga mencegah masuknya sel mani ke dalam liang sangggama karna seluruh semen tertampung di dalam kondom.
2.      Kondom wanita
Adalah kombinasi antara difragma dan kondom. Alat ini terdiri dari dua cincin polyurethane yang lentur diafragma yang terdapat pada masing – masing ujung dari suatu selubung lunak polyurethaneyang longgar. Cincin luar menutupi labia dasar penis keatas selama senggama menutupi labia dan dasar penis. Sebelum di pasang biasanya di tambahkan spemisid pada alatnya.
3.      Perpanjang masa menyusui anak
Adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI secara eklusif artinya hanya diberikan ASI tampa tambahan makanan / minuman apapun lainnya. Menyusui anak dapat mencegah ovulasi dan memperpanjang amenorea post partum, akan tetapi ovulasi pada suatu kehamilan pada suatu saat akan terjadi lagi dan akan mendahului haid pertama setelah partus.



b.      Metode Hormonal
1.      Pil KB
a.       Pil progesteron adalah pil yang hanya mengandung progesterone
b.      Pil KB kombinasi pil yang mengandung komponen progesteron dan estrogen
c.       Pil KB senkuensial adalah pil yang terdiri dari estrogen saja untuk 14 – 16 hari dan di susul KB kombinasi untuk 5 – 7 hari
d.      After morning pil adalah pil yang mengandung estrogen kadar tinggi
2.      Suntikan KB
a.       Depo-provera yang mengandung medroxyprogesteron asetat 150 mg
b.      Cylofen yang mengadung medroxy progesteron asetat 50 mg dan komponen estrogen
3.      Susuk KB
a.       Norplan terdiri dari 6 batang berisis hormone levonorgestrel, yang daya kerja 5 tahun
b.      Impalanon terdiri dari 1 batang berisi 60 mg ketodesogestre, yang dikelilingi suatu membrane EVA, berdaya kerja 2-3 tahun


c.       Mekanis
Alat  kontrasepsi dalam rahim (AKDR) adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim untuk memperlambat masuknya sperma
d.      Metode mantap
1.      Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan untuk menhentikan fertilisasi seorang perempuan secara permanen
2.      Vasectomy adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas produksi pria dengan jalan melakukan okulasi vasadeferensia sehingga alur trasportasi sperma terlambat (Manuba 2010)
5.      Keuntungan dan kerugian kontrasepsi
a.       Kondom
Keuntungan :
1.      Efektif bila digunakan dengan benar
2.      Tidak mengggu produksi ASI
3.      Tidak menggangu kesehatan klien
4.      Tidak mempunyai pengaruh sistematik
5.      Murah dan dapat dibeli secara umum
6.      Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus
Keterbatasan :
1.      Efektivitas tidak terlalu tinggi
2.      Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
3.      Agak menggagu hubungan seksual
4.      Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahakan ereksi
5.      Harus selalu tersedia tiap kali berhubungan seksual
6.      Pembuangan kondom bekas dapat menimbulkan masalah dalam hal limbah
b.      Perpanjangan menyusui anak ( MAL )
Keuntungan :
1.      Segera efektif
2.      Tidak mengganggu senggama
3.      Tidak ada efek samping secara sistematis
4.      Tidak perlu pengawasan medis
5.      Tidak perlu bat atau alat
6.      Tampa biaya
Keterbatasan :
1.      Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pasca persalinan
2.      Mungkin sulit akan di lakukan karna kondisi social
3.      Efektifitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai dengan 6 bulan
4.      Tidak melindungi terhadap IMS termasuk virus hepatitis B dan HIV / AIDS
c.       Pil KB kombinasi ( Manuaba. Hal 442-443 )

Keuntungan :
1.      Memiliki efektivitas yang tinggi bila digunakan setiap hari
2.      Resiko terhadap kesehatan kecil
3.      Tidak mengganggu hubungan seksual
4.      Mudah dihentian setiap saat
5.      Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat
Keterbatasan :
1.      Mahal dan membosankan karena harus digunakan setiap saat
2.      Mual terutama pada bula pertama
3.      Pendarahan berca terutama 3 bulan pertama
4.      Pusing
5.      Nyeri payudara
6.      Tidak boleh diberikan pada ibu menyusui
7.      Tidak menega IMS, HIV / AIDS
d.      Pil kombinasi (Manuaba. Hal 445 )
Keuntungan :
1.      Resiko terhadap kesehatan kecil
2.      Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami-istri
3.      Tidak diperlukan pemeriksaan dalam
4.      Jangka panjang
5.      Klien tidak perlu menyimpan alat suntik


Keterbatasan :
1.      Terjadi perubahan pola haid seperti tidak teratur, pendarahan bercak / spooting, atau pendaran sela sampai 10 hari
2.      Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan dan keluhan seperti ini akan hilang setelah suntukan kedua atau ketiga
3.      Kertergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan
4.      Tidak menjamin perlidungann terhadap penularan IMS
e.       Implant ( Manuaba. Hal 446 )
Keuntungan :
1.      Daya guna tinggi
2.      Perlindungan jangka panjang
3.      Pengembalian tingkat kesuburab yang cepat setealah pencabutan
4.      Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
5.      Tidak mengganggu kegiatan senggama
6.      Tidak mnggangu ASI
7.      Klien hanya perlu kembali ke klinik jika ada keluhan
8.      Dapat dicabut setiap saat sesuai kebutuhan
Keterbatasan :
1.      Nyeri kepala
2.      Peningkatan atau penurunan berat badan
3.      Nyeri payudara
4.      Perasaan mual
5.      Tidak memberikan efek protektif terhadap IMS termasuk AIDS
6.      Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai dengan kebutuhan
f.        AKDR
Keuntungan :
1.      Efek dengan proteksi dengan jangka panjang
2.      Tidak menggangu hubungan suami istri
3.      Tidak berpengaruh terhadap ASI
4.      Kesuburan segera kembali sesudah AKDR di cabut
5.      Efek samping sangat kecil
Keterbatasan :
1.      Diperlikan pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi genetalial sebelum pemasangan AKDR.
2.      Diperlikan tenaga terlatih untuk pemasangan dan pencabutan AKDR
3.      Klien tidak dapat menghentikan sendiri setiap saat sehinggga sangat bergantung pada tenaga kesehatan
4.      Pada pengguna jangka pangjang dapat terjadi amenoera
g.      Tubektomi
Keuntungan :
1.      Sangat efektif ( 0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan )
2.      Tidak mempengaruhi prosees menyususi
3.      Tidak bergantung pada faktor senggama
4.      Pembedahan sederhana dapat dilakukan dengan anastesi local
5.      Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
6.      Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual
Keterbatasan :
1.      Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini ( tidak dapat dipulihkan kembali ), kecui dengan operasi rekanalisasi
2.      Rasa sakit atau ketidak nyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan
3.      Dilakukan oleh dokter terlatih
4.      Tidak melindungi terhadap IMS termasuk HBV dan HIV /AIDS

B.     Tinjauan Khusus Tentang kontrasepsi AKDR
1.      Intra Uterine Device (IUD)
a.       Sejarah Intra Uteri Device (IUD)
Intra Uterine Device (IUD) atau Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) mempunyai sejarah perkembangan yang sangat panjang sebelum generasi III dengan keamanan, efektivitas, dan penyulit tidak terlalu besar. Hipocrate telah membuat alat untuk memasukkan batu-batu kecil kedalam rahim, sehingga tidak terjadi kehamilan pada onta. Richter dari polandia 1909 membuat AKDR dari benang sutra tebal yang dimasukkan kedalam rahim. Pada tahun 1930 Grafenberg dari jerman membuat cincin dari benang sutra dan perak untuk mengindari kehamilan dengan hasil memuaskan. Dan seterusnya alat kontrasepsi dalam rahim berkembang hingga sekarang.
Kontrasepsi AKDR/IUD adalah metode kontrasepsi darurat yang paling efektif, penilitian menujukan bahwa baik dokter maupun pasien kesadaran sedikit mengenai ini, para peneliti mengatakan studi di Amerika Serikat menujukan bahwa 85 % dari dokter tidak pernah merekomendasikan IUD untuk kontrasepsi darurat dan 93 % membutuhkan dua kunjungan untuk pemasangan AKDR. ( koes Irianto hal. 145 )
AKDR sama dengan alat kontrasepsi yang lain seperti implant, pil, suntikan, yaitu untuk meningkatkan penerimaan keluarga berencana yang berarti makin berkurang kelompok ibu dengan kehamilan berisiko tinggi dengan akibat semakin menurunnya angka kesakitan dan kematian ibu darii perinatal   ( Manuaba 2010 )
Intra-Uterine Device (IUD) di sebut juga dengan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) adalah alat kontrasepsi yang digunakan oleh wanita usia subur yang di insersi dalam vagina. (Siti Whthaniah 2013)
IUD merupakan metode kontrasepsi jangka panjang yang dapat digunakan hingga waktu 8 tahun dan memiliki tingkat efektivitas tinggi (97 – 99 %) sebagai salah satu metode antisipasi laju pertumbuhan penduduk yang sangat cepat. Namun pada tahun 2011 presentase pengguna IUD di Indonesia masih peringkat ke tiga.

2.      Macam – macam alat kontratrasepsi AKDR
a.       AKDR yang mengadung tembaga, yaitu comper T ( CuT 380 A ) dan nova T
b.      AKDR yang mengandung hormone progesteron, yaitu minera
c.       AKDR lipes loop yang terbuat dari plastik.
Namun karena AKDR yang paling banyak  di pasaran adalah yang berjenis non hormon,
Jenis alat kontrasepsi dalam rahim/IUD yang sering digunakan di Indonesia antara lain :
1.Copper-T
Bentuk Alat kotrasepsi dalam rahim (AKDR) yang beredar dipasaran adalah tulang ikan MLCu 250. Unsure tambahan adalah tembaga (Cuprum) dan hormone (Levonorgestrel).
Copper-T 380 A sebagai standar yang dibuat oleh PT kimia farma. Cara pengguna alat kontrasepsi ini adalah dengan disisipkan kedalam rahim, terbuat dari bahan semacam plastic, ada pula yang terlilit tembaga, dan bentuknya bermacam-macam.
Alat kotrasepsi dalam rahim (AKDR)/IUD berbetuk T, terbuat dari bahan polyethelen dimana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawatembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik.


2.Copper-7
AKDR atau IUD ini berbentuk anggak 7 dengan maksud untuk mempermudah pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameterbatang vertical 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T.
3.Multi Load
AKDR/IUD ini terbuat dari plastic (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjang dari ukuran atas ke bawah 3,6 cm. batangan yang diberikan gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 untuk menambah efektifitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.
4.Lippes Loop
AKDR/UID ini terbuat dari bahan polyethelene, berbentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan control, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. lippes loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari spiral jenis ini adalah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyembuhan usus, sebab terbuat dari bahan plastik.
5. Nova T
Panjang 32 mm,lebar 32mm,200mm2 luas permukaan Cu  dengan inti Ag didalam kawat Cu-nya.
Novagard       : daya kerja    :5 tahun
3.      Mekanisme kerja
IUD tembaga mencegah terjadinya pembuahan (fertilisasi) dengan memblok bersatunya ovum dan sperma, mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba fallopii dan menginaktifkan sperma, sedangkan IUD yang mengeluarkan hormon, menebalkan lendir serviks hingga menghalangi pergerakan sperma.
4.      Efektifitas, keuntungan dan efek samping IUD
1.      Keefektifan IUD
IUD mempunyai efektivitas cukup tinggi, 0,6-0,8 kehamilan/ 100 perempuan dalam 1 tahun pertama atau 1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan.
2.      Keuntungan IUD
a.       Efektifitasnya tinggi 0,6 – 0,8 kehamilan / 100 perempuan dalam tahun pertama
b.      AKDR dapat efektif setelah pemasangan.
c.       Metode jangka panjang ( ± 10 tahun )
d.      Sangat efektif karna tidak perlu mengiat-ingat
e.       Tidak mempengaruhi hubungan seksual
f.       Meningkatnya kenyamana karena tidak perlu takut hamil
g.      Tidak ada efek samping hormonal
h.      Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
i.        Dapat di pasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus
j.        Dapat digunakan sebelum menapous ( 1 tahun atau lebih setelah haid terakhir )
1)      Efek samping IUD
1)      Efek samping yang umum terjadi
a)      Perubahan siklus haid
b)      Haid lebih lama dan banyak
c)      Pendarahan (spoting )antar mentruasi
d)     Saat haid lebih sedikit
2)      Komplikasi yang lain
a)      Merasakan sakit dan kejang selama 3 – 5 hari setelah pemasangan
b)      Pendarahan berat pada waktu haid atau di antaranya yang memungkinkan penyebab anemia
c)      Perforasasi dinding uterus
3)      Tidak mencegah IMS termasuk HIV / AIDS
4)      Tidak baik digunakan pada perumpuan IMS atau yang perempuan yang sering berganti pasangan
5)      Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR
6)      Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelviks di perlukan dalam pemasangan AKDR
7)      Sedikit nyeri dan pendarahan ( spoting ) tejadi setelah pemasangan AKDR
8)      Klien tidak dapat melepaskan AKDR sendiri
5.      Kontra indikasi dan Waktu Pemasangan IUD
1)      Kontra Indikasi
Kontra indikasi pemasangan AKDR menurut Saifuddin (2009) adalah:
a)      Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil).
b)      Perdarahan vagina yang tidak diketahui.
c)      Sedang menderita infeksi alat genital (Vaginitis, Servisitis).
d)     Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septic.
e)      Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi cavum uteri.
f)       Kanker alat genital.
g)      Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.
2)      Waktu Pemasangan
a)      Setiap waktu dalam siklus haid yang dapat dipastikan klien tidak hamil.
b)      Hari 1-7 siklus haid.
c)      Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca persalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenore laktasi (MAL). Perlu diingat, angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48 jam pasca persalinan.
d)     Setelah abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi.
e)      Selama 1-5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.
f)       Efek samping IUD dan penanggulangannya
1)      Perdarahan
Dapat terjadi perdarahan pasca-insersi, bercak di luar haid (spotting) atau perdarahan meno atau metroragia.
Perdarahan ditangani dengan memberikan obat-obatan seperti: Ermetrin, Metergin, Daflon, kalsium, vitamin K dan C dan sebagainya. Tidak perlu diberikan antibiotik. Bila dengan cara-cara tersebut perdarahan tidak berhenti atau tetap banyak, dianjurkan untuk mencabut IUD.
2)      Keputihan
Keputihan yang berlebihan mungkin disebabkan oleh reaksi organ genetalia terhadap benda asing yang biasanya terjadi dalam beberapa bulan pertama setelah insersi. Sebelum dilakukan pengobatan, carilah penyebabnya dulu. Dapat diberikan tablet oral atau tablet vaginal.
3)      Nyeri dan mulas
Kejang, nyeri dan mulas-mulas, serta pegal pada pinggang biasanya terjadi sehabis insersi IUD, umumnya akan hilang dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. Pengobatannya dengan analgetik dan spasmolitika.
4)      Dismenorea (nyeri selama haid)
Tidak seluruhnya wanita yang memakai IUD akan menderita nyeri haid, biasanya hanya terjadi pada wanita-wanita yang sebelumnya memang sering mengeluh nyeri sewaktu haid. Pengobatannya dengan analgetika dan spasmolitika.
5)      Dispareunia (nyeri sewaktu koitus)
Wanita jarang merasakannya, sering pihak suami mengeluh sakit karena benang yang panjang atau cara pemotongan benang seperti bambu runcing. Penanganannya dengan memendekkan benang dan buatlah agar ujungnya tumpul.
6)      Ekspulsi (IUD keluar dengan sendirinya)
Sering dijumpai pada masa 3 bulan pertama setelah insersi, setelah 1 tahun angka ekspulsi akan berkurang. Biasanya terjadi sewaktu sedang haid.

Faktor-faktor yang berperan pada terjadinya ekspulsi adalah:
a)      Faktor IUD
(1)   Jenis IUD, yaitu ekspulsi lebih jarang terjadi pada jenis IUD tertutup.
(2)   Ukuran IUD, yaitu makin besar ukurannya semakin kecil kemungkinan terjadinya ekspulsi.
b)      Waktu pemasangan
Angka ekspulsi lebih tinggi pada pemasangan dini (beberapa hari postpartum) dan pada pemasangan langsung dalam waktu bulan pertama pasca persalinan.
c)      Faktor akseptor
(1)   Umur dan paritas akseptor, yaitu makin tinggi usia dan paritas, makin rendah kejadian ekspulsi.
(2)   Adanya kelainan pada alat genetalia, yaitu misalnya inkompetensi serviks dan kelainan uterus.
d)     Infeksi
Radang panggul dijumpai sekitar 2% akseptor pada tahun pertama pemakaian, namun infeksi ini bersifat ringan dan tidak perlu dicabut.

g)      Petunjuk bagi klien IUD
Petunjuk bagi klien IUD menurut Saifuddin (2009), yaitu:
1)   Kembali memeriksakan diri setelah 4-6 minggu pemasangan IUD.
2)   Setelah bulan pertama menggunakan IUD, periksalah tali secara rutin terutama setelah haid.
3)   Setelah bulan pertama pemasangan hanya perlu memeriksakan keberadaan benang setelah haid apabila mengalami:
a)      Kram/ kejang diperut bagian bawah.
b)      Perdarahan/ spotting diantara haid atau setelah senggama.
c)      Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami ketidaknyamanan selama melakukan senggama
4)      Copper T 380 A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat dilakukan lebih awal apabila diinginkan.
5)      Kembali ke klinik, apabila :
a)      Tidak dapat meraba tali IUD.
b)      Merasakan bagian yang keras dari IUD.
c)      IUD terlepas.
d)     Siklus terganggu/ meleset.
e)      Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan.
f)       Adanya infeksi.
g)      Indikasi Pencabutan IUD
Indikasi untuk mengeluarkan IUD adalah sebagai berikut:
1)      Indikasi medis: sakit atau kram daerah pelvis terus-menerus, perdarahan pervaginam yang abnormal atau berlebihan, PID akut, perubahan letak IUD di dalam uterus, kehamilan (bila mudah mengerjakannya) keganasan uterus atau cervix, menopause.
2)      Atas permintaan suami-istri.
3)      IUD telah kadaluarsa.
4)      Akseptor bercerai atau suami meninggal.
5)      Ingin hamil atau ganti cara kontrasepsi lain.
6.      Keputihan
a.       Pengertian Keputihan
Keputihan adalah keluarnya sekret/ cairan dari vagina.
b.      Keputihan Alamiah/ Fisiologis
Keputihan alamiah menurut Wiknjosastro  ditemukan pada:
1)      Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, disebabkan oleh pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
2)      Waktu sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen.
3)      Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina.
4)      Waktu sekitar ovulasi, sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer.
5)      Akseptor kontrasepsi pil dan akseptor IUD.
c.       Keputihan oleh Penyakit/ Patologis
Penyebab terjadinya keputihan menurut Sianturi dapat disebabkan oleh :
1)      Infeksi
Adanya jasad renik berupa kuman, jamur, parasit, dan virus dapat menghasilkan zat kimia tertentu yang bersifat asam dan menimbulkan bau yang tidak sedap.
2)      Benda asing (corpus alenium)
Adanya benda asing dapat merangsang pengeluaran cairan liang senggama yang berlebihan.
3)      Kanker
Pada kanker terdapat gangguan dari pertumbuhan sel normal yang berlebihan, sehingga mengakibatkan sel tumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah rusak, akibatnya terjadi pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker tersebut.
4)      Menopause
Pada keadaan menopause sel-sel pada leher rahim dan liang senggama mengalami hambatan dalam pematangan sel akibat tidak adanya hormon pemacu, yaitu estrogen. Liang senggama menjadi kering dan sering timbul rasa gatal karena tipisnya lapisan sel sehingga mudah menimbulkan luka dan akibatnya timbul infeksi.
5)      Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan.
Kadang-kadang pada wanita ditemukan cairan dari liang senggama yang bercampur dengan air seni atau feses, yang terjadi akibat adanya lubang kecil dari kandung kencing atau usus ke liang senggama akibat adanya cacat bawaan, cedera persalinan, radiasi dan akibat kanker.
d.      Tanda dan Gejala Keputihan
Tanda dan gejala keputihan, yaitu :
1)      Fisiologis
a)      Cairan tidak berwarna/ bening.
b)      Tidak berbau.
c)      Tidak berlebihan.
d)     Tidak menimbulkan keluhan.
2)      Patologis
a)      Bakteri
Ini disebabkan oleh bakteri Gardnerella (Bacterial vaginosis). Cirinya, yaitu keputihan biasanya encer, berwarna putih keabu-abuan dan berbau amis.
b)      Jamur
Ini disebabkan oleh jamur Candida albicans. Cirinya, yaitu cairan berwarna putih kekuningan, berbau khas dan dapat menyebabkan rasa gatal yang hebat pada daerah vulva dan sekitarnya.
c)      Parasit
Ini disebabkan oleh infeksi parasit Tricohomonas vaginalis. Cirinya, yaitu cairan berwarna kuning-hijau, kental, berbusa, berbau tidak sedap, dan menimbulkan rasa gatal dan iritasi di organ intim.
d)     Virus
Keputihan karena virus sering ditimbulkan oleh penyakit kelamin, seperti:
(1)    Condyloma yang ditandai dengan tumbuhnya kutil yang sangat banyak dan cairan berbau.
(2)    Herpes
(a)    Ditularkan lewat hubungan seksual.
(b)   Bentuknya seperti luka melepuh disekeliling liang vagina.
(c)    Mengeluarkan cairan gatal.
(d)   Terasa panas.
(e)    HIV/ AIDS.
e.       Penatalaksanaan Keputihan
1)      Gunakan celana yang terbuat dari bahan yang mudah meresap
Dengan menggunakan celana yang terbuat dari bahan mudah meresap untuk mermpermudah daya isap agar vagina tetap dalam keadaan kering.
2)      Amati keputihan klien
Dengan mengobservasi keputihan  maka bidan dapat menentukan keputihan yang di alami klien baik keputihan fisiologis maupun patologis,pada klien yang menderita keputihan fisiologis akan tampak cairan lendir jernih, tak berwarna  dan tidak berbau,sedangkan keputihan patologis akan tampak cairan berupa lendir yang berwarna kuning atau kehijauan dan berbau.sehingga dapat di tindak lanjuti
3)      Hindari celana yang ketat
Celana yang ketat dapat mengakibatkan iritasai pada vagina sehingga dapat mengakibatkan keputihan.
4)      Setiap BAK keringkan alat genetalia eksternal 
Untuk mengetahui kebersihannya,agar tidak terjadi keputihan.
5)      Pap smear
1.      Untuk Check Up
2.      Untuk memeriksa lender serviks,dan untuk mendeteksi pra kanker.



C.    Tinjauan Tentang Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah pendekatan kerangka pikir yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengumpulan data, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien penggunaan IUD dengan keputihan, penulis menerapkan manajemen kebidanan menurut Hellen Varney yang terdiri dari tujuh langkah berurutan di mana setiap langkah disempurnakan secara periodik agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat dicapai. Langkah ini meliputi pengkajian, interpretasi data, diagnosa potensial, antisipasi, rencana tindakan, implementasi dan evaluasi. Langkah-langkah manajemen kebidanan menurut Hellen Varney adalah sebagai berikut:
Langkah I. Identifikasi Data Dasar
Pengkajian
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua yang berkaitan dengan kondisi klien dan keluarga secara lengkap. Bidan harus menggali data dari pasien dan keluarga dan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh bidan sendiri, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses interpretasi yang benar. Pendekatan secara komprehensif meliputi data subjektif dan objektif dapat menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya.
Pola manajemen yang penulis kaji pada data subjektif ini meliputi:
a.       Data identitas
Data identitas mencakup:
1)      Nama, ditanyakan untuk membedakan dengan pasien/ klien lainnya.
2)      Umur, ditanyakan untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan.
3)      Agama, ditanyakan untuk mengetahui agama pasien akan mudah dalam mengatasi masalah kesehatan pasien.
4)      Pendidikan, ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektual pasien.
5)      Pekerjaan, ditanyakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pekerjaan dengan permasalahan kesehatan pasien dan juga pembiayaan pasien.
6)      Alamat, untuk mengetahui lingkungan serta tempat tinggal pasien atau klien.
b.      Keluhan utama
Untuk mengetahui permasalahan/keluhan yang dihadapi oleh klien. Pada klien ini alasan yang dikemukakan adalah mengalami keputihan.
c.       Riwayat haid
Meliputi menarche, siklus haid, berapa hari lama haid, banyaknya darah haid, kapan menstruasi terakhir dan ada keluhan saat haid atau tidak.
d.      Riwayat perkawinan
Untuk mengetahui pasien menikah umur berapa, berapa kali menikah, lama menikah dan merupakan istri atau suami yang ke berapa.
e.       Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas lalu
Hal yang perlu dikaji antara lain ibu sudah hamil berapa kali, apakah ada riwayat abortus, dimana ibu ANC saat hamil, pada saat persalinan ditolong oleh siapa, komplikasi selama persalinan, bagaimana keadaan bayi dan adakah komplikasi masa nifas.
f.       Riwayat kesehatan
1)      Riwayat kesehatan sekarang
Dikaji untuk mengetahui keluhan yang ibu alami saat ini, yang berhubungan dengan kesehatannya.
2)      Riwayat kesehatan yang lalu
Dikaji untuk mengetahui apakah pasien pernah menderita suatu penyakit kronis, menular maupun penyakit infeksi, apakah pasien pernah menjalani operasi. Jika pernah jenis operasi apa yang dialami dan kapan operasi tersebut berlangsung.
3)      Riwayat kesehatan keluarga
Merupakan data mengenai latar belakang kesehatan keluarga yang meliputi anggota keluarga yang mempunyai penyakit tertentu terutama penyakit menular, penyakit yang dapat diturunkan, penyakit kronis dan penyakit menahun, seperti: diabetes mellitus, jantung hipertensi, ginjal, asma, TBC, gonorhoe, AIDS dan kelainan pembekuan darah.
g.      Riwayat kontrasepsi
Dikaji untuk mengetahui alat kontrasepsi yang pernah digunakan, lama pemakaiaan dan komplikasi yang dialami.
h.      Data kebiasaan sehari-hari
Data kebiasaan sehari-hari merupakan data yang berhubungan dengan kebiasaan yang dilakukan sehari-hari oleh klien baik sebelum maupun sesudah penggunaan IUD dengan keputihan. Hal yang perlu dikaji adalah:
1)      Nutrisi
Dalam mengkaji data nutrisi perlu diketahui pola makan dan minum klien yang meliputi frekuensi, kualitas, porsi makan, jenis makanan yang disukai dan jenis makanan pantangan.
2)      Pola eliminasi
Pola eliminasi menggambarkan berapa kali sehari klien BAK dan BAB, warna fesesnya, konsistensi fesesnya dan keluhannya.
3)      Pola istirahat dan tidur
Yang perlu dikaji dalam pola istirahat dan tidur adalah beberapa jam klien tidur dalam sehari dan apakah ada gangguan tidur.

4)      Aktivitas
Aktivitas klien dengan kontrasepsi IUD yang perlu dikaji meliputi aktivitas klien sehari-hari, apakah klien bekerja di tempat kerja atau di rumah sebagai ibu rumah tangga.
5)      Personal hygiene
Hal-hal yang perlu dikaji dalam personal hygiene meliputi kebiasaan mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian dan ganti celana dalam.
6)      Pola seksual
Pola seksual perlu dikaji untuk mengetahui adanya gangguan frekuensi hubungan seksual, dengan siapa klien melakukan hubungan seksual, karena pemakai IUD yang mempunyai mitra sex lebih dari satu dapat menambah resiko mendapat penyakit radang panggul
7)      Perilaku kesehatan
Perilaku kesehatan menggambarkan kebiasaan klien yang berhubungan dengan masalah kesehatan, meliputi apakah klien perokok, karena IUD dapat digunakan pada perokok berat (Dep.Kes.RI, 2007), apakah klien sedang menggunakan obat-obatan, karena IUD juga dapat digunakan pada mereka yang sedang memakai antibiotika atau anti kejang.


i.        Data psikologi dan spiritual
1)      Data psikologi mencerminkan bagaimana hubungan interpersonal klien dengan keluarga atau orang di sekitarnya, apakah ada konflik, bagaimana keadaan klien dalam keluarga. Data psikologi memberikan gambaran mengenai respon klien terhadap kontrasepsi IUD, selain itu juga menggambarkan perasaan klien menjadi akseptor IUD dan dukungan suami dan keluarga terhadap klien menjadi akseptor IUD.
2)      Data spiritual mencerminkan kepercayaan kepada Tuhannya dengan penerimaan klien terhadap kontrasepsi IUD.
Data objektif yang berasal dari pemeriksaan meliputi pemeriksaan umum, pemeriksaan fisik, pemeriksaan dalam dan pemeriksaan laboratorium.
a.       Pemeriksaan umum
Pemeriksaan umum terdiri dari keadaan umum, kesadaran, vital sign yang terdiri dari tekanan darah, suhu tubuh, pernafasan dan nadi serta berat badan (sebelum dan sesudah menggunakan kontrasepsi IUD).
b.      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan akseptor kontrasepsi IUD disertai keputihan dapat dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan fisik tersebut adalah:

1)      Kepala
Pemeriksaan fisik pada kepala yaitu bagaimana kondisi rambut dan kepala tentang warna, kebersihan, kerontokan, luka, benjolan dan nyeri tekan.
2)      Wajah
Pada wajah dapat dilihat apakah klien pucat, cemas dan kebersihan wajahnya.
3)      Mata
Adakah kelainan, simetris atau tidak, warna sclera dan warna konjungtiva.
4)      Hidung
Untuk mengetahui bagaimana kebersihannya, apakah ada polip atau serumen.
5)      Telinga
Untuk mengetahui bagaimana kebersihannya, apakah ada serumen atau cairan, ada nyeri tekan atau tidak.
6)      Mulut
Untuk mengetahui adakah stomatitis, keadaan gusi, kebersihan gigi dan lidah. Hal tersebut untuk mengetahui kecukupan vitamin dan mineral klien.
7)      Leher
Untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe atau tidak.
8)      Dada
Untuk mengetahui kebersihan payudara, kesimetrisannya, puting susu menonjol atau tidak, apakah ada benjolan/massa pada payudara.
9)      Abdomen
Bagaimana turgor kulitnya, adakah benjolan, adakah nyeri tekan, adakah luka bekas operasi.
10)  Genetalia
Bagaimana kebersihannya, adakah varises, apakah tampak pembesaran atau tumor. Pada klien yang menderita keputihan fisiologis akan tampak cairan lendir jernih, tak berwarna dan tidak berbau, sedangkan keputihan patologis akan tampak cairan berupa lendir yang berwarna kuning atau kehijauan dan berbau.
11)  Ekstremitas
Untuk mengetahui apakah pada ekstremitas atas atau bawah terdapat varises atau odem dan reflek patella positif atau negatif.
c.       Pemeriksaan Dalam (Inspekulo dan Bimanual)
Pemeriksaan inspekulo dilakukan untuk mengetahui keadaan vulva, dinding vagina, portio dan serviks.
Sedangkan pada pemeriksaan bimanual hal-hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan vulva, vagina, portio, besarnya corpus uteri, posisi uterus adakah massa, benjolan atau nyeri tekan saat pemeriksaan.

d.      Pap Smear
Untuk memeriksa lendir serviks, mendeteksi pra kanker.
Langkah II. Identifikasi Diagnosa/ Masalah Aktual
Menginnterprestasikan data : indentifikasi masalah atau dignosa
Pada langkah ini data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah diidentifikasi. Masalah yang muncul sering berkaitan dengan hal-hal yang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian.
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam ruang lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan. Standar nomenklatur diagnosa kebidanan yaitu diakui dan disahkan oleh profesi, berhubungan langsung dengan praktek kebidanan, mempunyai clinical judgement dalam praktek kebidanan, dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami oleh klien yang diidentifikasikan oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian
Langakah III. Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial
Diagnose potensial
Pada langkah ini bidan mengidentifikasi atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosa atau masalah potensial ini menjadi benar-benar terjadi.
LAngkag IV. Tindakan Segera/Kolaborasi
Antisipasi
Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Data-data baru harus senantiasa dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengidentifikasi situasi yang gawat di mana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa klien. Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien, untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen kebidanan.
Langkah V. Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan
Rencana tindakan
Pengembangan rencana asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya, langkah ini merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi sekarang atau yang telah diantisipasi dan juga mencakup langkah untuk data dasarnya. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak yaitu oleh bidan dan klien, agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut.
Rencana tindakan pada akseptor IUD dengan keputihan sesuai dengan adalah:
a.       Jelaskan pada klien tentang keadaan dan kondisi IUD yang dipakainya.
b.      Jelaskan pada klien tentang keputihan yang dialaminya.
c.       Beri terapi untuk keputihan jika keputihan patologis.
d.      Anjurkan klien untuk menjaga genetalianya tetap bersih dan kering.
e.       Anjurkan ibu untuk tetap menggunakan IUD.
f.       Anjurkan klien untuk kontrol ulang.
Langkah VI. Penatalaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan
Implementasi
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap ini dimulai setelah rencana disusun dan ditujukan pada tenaga kesehatan untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.
Langkah pelaksanaan yang dilakukan dari rencana asuhan secara menyeluruh ini bidan melakukan secara mandiri kecuali jika pelaksanaan penanganan kasus memerlukan tindakan di luar kewenangan bidan, maka perlu dilakukan konsultasi ataupun kolaborasi.
Langkah VII. Evaluasi Tindakan Asuhan Kebidanan
Evaluasi
Evaluasi digunakan untuk mengukur kemajuan dari hasil tindakan yang telah dilakukan. Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan, apakah benar-benar terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana yang telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya
Pada evaluasi ini diharapkan klien tetap menggunakan kontrasepsi IUD dan dapat menerima efek samping dari kontrasepsi IUD.
Pada prinsipnya tahapan evaluasi adakah pengkajian kembali terhadap klien untuk menjawab pertanyaan beberapa jauh tercapainya rencana yang dilakukan.
Pendokumentasian
Dari hasil manajemen asuhan bidanan yang dibuat dalam 7 langkah tersebut, kemudian dilakukan pendokumentasian hasil asuhan klien dalam rekam medis klien sebagai catatan perkembangan/kemajuan yang disebut SOAP. Pendokumentasian asuhan kebidanan menggunakan pendekatan SOAP terdiri dari empat langkah yaitu :
1.      S : Subjektif
Merupakan ringkasan dan langkah I dalam proses manajemen asuhana kebidanan yang di peroleh dan apa yang dikatakan, disampaikan dan dikeluarkan oleh ibu melalui anamnese dengan ibu dan kelurganya.
2.      O : Objektif
Merupakan ringkasan dan langakah I dalam proses manajemen asuhan kebidanan yang diperoleh melalui inspeksi, palpasi, auskultasi, auskultasi dan hasil pemeriksaan laboratorium dan USG.

3.      A : Assesment
Merupakan ringkasan dan dan langkah II, III dan IV dalam proses manajemen asuhan kebidanan dimana dibuat kesimpulan berdasarkan dan data subjektif dan objektif sebagai hasil pengambilan keputusan klinik terhadap ibu tersebut.
4.      P : Planning
Merupakan ringkasan dan langkah V. VI dan VII dalam proses manajemen asuhan kebidanan dimana planning ini dilakukan berdasarkan dan hasil kesimpulan dan evaluasi terhadap keputusan ibu yang diambil dalam rangka mengatasi masalah ibu atau memenuhi kebutuhan ibu.
Catatan SOAP dipakai untuk pendokumentasian asuhan kebidanan karena :
a.       Pendokumentasian dengan metode SOAP berupa kemajuan informasi yang sistematis yang mengorganisir penemuan dan kesimpulan sehingga terwujudnya rencana asuhan
b.      Metode ini merupakan penyaringan dari proses penatalaksanaan kebidanan untuk tujuan penyedian dan pendokumentasian asuhan.
c.       Metode SOAP dapat membantu mengorganisir pikiran sehingga dapat memberikan asuhan secara menyeluruh
d.      SOAP adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis dan tertulis.
Pendokumentasian hasil asuhan kebidanan terdiri dari 7 langkah menurut Varney Helen, 5 langkah menurut kompetensi bidan, dan 4 langkah SOAP. Hubungan manajemen manajemen kebidanan dan metode pendokumentasian dengan SOAP dapat dilihat sebagai berikut.
Proses penatalaksanaan kebidanan menurut Varney merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan bidan dalam memberikan asuhan kepada klien. Setelah melaksanakan asuhan, bidan harus mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan dengan menggunakan metode SOAP yang tidak lepas dari pola pikir penatalaksanaan kebidanan.



D.    Alur Pola Pikir Bidan
Alur pikir bidan                          Pencatatan dari asuhan kebidanan
Proses manajemen kebidanan                    Dokumen Kebidanan

7 Langkah (varney)
5 langkah (kopentensi bidan)
Data
Data
Masalah/ diagnose
Assesmen / Diagnosa
Antisipasi masalah potensial/ diagnose lain
Menetapkan kebutuhan segera untuk konsultasi, kolaborasi
Perencanaan
Perencanaan
Implementasi
Implementasi
Evaluasi
Evaluasi
SOAP
Subjektif
Objektif
Assesmen / Diagnosa
Plan
·         Konsul
·         Tes diagnostik lab
·         Rujukan
·         Pendidikan / konseling
·         Follow up
                
E.     Diagnosa Kebidanan
Standar Nomenklatur Kebidanan Yang di akui oleh pemerintah
a.       Diakui dan di syhakan oleh profesi
b.      Berhubungan langsung dengan praktisi kebidanan
c.       Memiliki ciri khas kebidanan
d.      Di dukun oleh clinical judjemnt dalam praktik kebidanan

e.       Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan (Rismalinda,2014)